Aku bisa merasakan tatapan menukik tajam dari seorang Tristan terhadapku, rahangnya gemeretak ! kepalan tangan didalam sakunya, terus saja ia kencangkan genggamannya. Tristan berjalan kearahku dengan langkah dipercepat dengan nafasnya yang berat. Aku hanya menunduk , benar-benar tidak sanggup dengan emosi yang menguasai Tristan saat ini.
BRAAAAAKK..
Tristan mendorong tubuhku hingga terhempas kuat menghantam papan tulis ruang perkuliahan. Aku bisa merasakan genggaman tangan kirinya melingkar di leherku dengan sangat kuat.
“RIS ! LOE SADAR NGGA SIH !”
Teriak Tristan yang kali ini lebih keras dari sebelumnya,
menatap mataku dengan kedua matanya yang merah.
Tristan terlihat sulit mengatur nafasnya yang tersengal karena emosi ini. Aku sedikit terkejut dengan reaksinya yang meninggalkan logat ‘aku-kamu’ nya.
“SADAR APAAA ? APAA YANG HARUS GUE SADARIN ? Gue HARUS sadar kalo loe lebih milih cewek itu dari pada gue, IYAAAA ? LOE LEBIH MILIH CRASHIA ?”
Aku membalas teriakan itu sambil mencengkram kuat lengannya yang masih melingkarkan pergelangan tangannya di leherku.
Aku sedikit mulai kesulitan bernafas karena-nya. Aku bisa merasakan tatapan Tristan yang semakin lama yang semakin terasa berkaca-kaca menelisikkan tatapannya kearahku.
“sorry , aku sama sekali ngga bermaksud buat …”
Tristan melemahkan nada suaranya, dan mulai melepaskan ‘cekikan’ tangannya di leherku sambil terlihat limbung dan benar-benar memandangku dengan rasa kecewa, entah kenapa ! Tristan terlihat masih mencengkram kuat sisi-sisi jeans hitam-nya. Tubuhku terasa benar-benar lemas. Segitu tidak ada kesempatannya kah aku, sampai-sampai Tristan harus mendorong tubuhku dan mencoba mencekik ku seperti tadi ?
“kamu itu sahabat aku, Ris ! dan apalagi kamu itu …” desahnya lirih namun aku mendengarnya.
“terus kenapa, Tan ? terus kenapa kalo aku sahabat kamu ?”
Tristan beringsut dari duduknya , dengan langkah berat ia menghampiriku lagi kali ini Tristan terlihat emosi bergumul dari dalam dirinya.
“HARIS ! GUE ITU COWOK ! DAN ELO ITU …”
Tristan menunjukkan telunjuknya kearahku dengan kasar sambil sekali lagi mengguncang-guncang bahu dan mendorong dadaku yang bidang ini berjalan mundur dan menabrak dinding.
Brengsek !
memang apa salahnya aku mencintai laki-laki juga ? kenapa semua orang selalu setuju dengan perbedaan ? bukankah persamaan itu lebih menyenangkan ! Brengsek kamu, Tristan…
“COWOK ! IYA ? ITU KAN YANG MAU ELO OMONGIN ? BASI !”
BRRAAAAAAAKK….
Aku memberontak hebat dari cengkraman lengan-lengannya itu sambil berbalik arah menghadap kaca yang tergantung di bagian sebelah kiri dinding, dan langsung menghantamnya dengan buku-buku jariku.
PAAAAAAAAAARR..
Pecahan serbuk-serbuk kaca itu terpental hingga ke kotak-kotak keramik lantai. Tristan hanya bergeming mengamati apa yang barusan dilihatnya itu barusan. Aku hanya memejamkan mataku, sembari sedikit meringis sakit dengan kucuran daras segar yang mengaliri buku-buku kepalan tangan-ku. Perih …. Bukan karena tanganku terluka tapi karena….
Aku mulai beringsut dan mengumpulkan tenagaku mencoba dan mencoba mendorongnya lebih keras.
“HARIS ! Plis, DENGERIN GUE ! LOE BISA SEMBUH , RIS ! GUE YAKIN ITU ! GUE BAKAL BANTU ELO !”
“GUE NGGA SAKIT!” Aku menamparnya dengan sekuat tenaga yang aku bisa ! sisa-sisa energi itu masih tersisa.
_____________
Kegetiran itu selalu saja aku rasakan tiap kali mengingat semua kejadian tentangku, tentang Tristan, tentang semuanya. Aku mencoba menutup mataku seraya merasakan sensasi angin menerpa wajahku. Regresi mundur tentang memori tentang Tristan mulai menguasai hampir seluruh otakku saat ini. Aku hanya menatap lurus , menghadirkan pandangan kosong kearah bawah balkon gedung tinggi ini.
Tesss….
Akhirnya jatuh juga !
Bulir-bulir kristal kening itu mulai menguasai kelopak mataku dan aku sama sekali tidak mampu menahannya. Air mata itu semakin menyeruak deras , aku hanya diam menangis tanpa suara didalam keheningan tempat ini. Hal yang selalu dan biasa aku lakukan dulu setiap kali melihat Tristan bersama Crashia, yaitu berjalan mundur perlahan dan menangis tanpa suara.
Tuhan…
Sampai kapan aku harus seperti ini, selalu memperhatikan setiap detil tentangnya , setiap detil sampai ke hal-hal kecil tentang apa saja yang ia lakukan, setiap detil perasaannya setiap hari ? Sampai kapan ? Beratus-ratus kali bahkan aku berusaha untuk mencoba membenci-nya ! Tapi… itu sia-sia ! Semakin keras aku berusaha untuk melupakannya, semakin keras juga rasa sayang itu berjuta-juta kali lipat membuncah ! Ah, aku benar-benar muak dengan topeng ini, aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi ..
“Apa benar yang mereka katakan itu ? apa aku salah mencintai seorang laki-laki juga ? aku laki-laki dan Tristan laki-laki , apa itu salah ? Salah dimana-nya….
”Aku mulai merasakan kebencian akan diriku sendiri ini semakin menggunung dan menguasai rongga dadaku.
Wuuussssshh…
Aku kembali menghela nafas disela-sela guratan garis di langit yang sudah terlihat mulai menghitam sempurna, perlahan-lahan senja barusan tadi menenggelamkan coretan-coretan orange senja dilangit sore tadi. Ah, akhirnya aku bisa merasakan senja terakhir ini.
“Tristan …….” Desahku lirih sambil mendongakkan daguku kearah temaramnya langit malam ini.
Aku beringsut beranjak dari posisi duduk menujulurkan kaki dari atas balkon gedung 4 lantai ini, mencoba berdiri diujung pembatas pagar balkon gedung merasakan semilir angin malam yang mendesah pelan membawa semua ingatan tentang-nya.
Buuuuussssshhhh….
Kali ini, angin barusan menghempaskan dan merasuk hingga kedalam kemeja-ku menerbangkan sebagian rambut-ku yang terlihat acak-acakan ini. Aku memejamkan mataku sambil berdiri dip agar tinggi balkon ini , merentangkan tangan merasakan lembutnya desiran angin mala mini, aku memejamkan mata ! sengaja, karena aku hanya ingin merasakan sensasi-nya !
Tesss…
Semua ingatan tentangnya bergumul dengan kecepatan diatas rata-rata merasuk merayapi seluruh bagian otakku saat ini. Bulir-bulir Kristal bening itu benar-benar menyeruak deras kali ini di kelopak mataku ! Sengaja aku membiarkannya…
“woy….woy ….. ! TURUN !”
Samar-samar aku mampu mendengar teriakan kerumunan dari arah bawah ! Aku mengabaikannya, toh ! buat apa orang-orang itu peduli terhadap-ku ! mereka semua tidak tahu apa-apa.
“TURUUUNNN ! WOYY ..”
Teriakan-teriakan itu semakin keras, justru membuatku semakin bersemangat ! Mereka terlihat sedang bersorak bahagia mendukungku ! Aku benar-benar semakin bersemangat… Aku menggeserkan telapak kaki bersepatu ini , berusaha melangkah dan menjejakI udara, aku memejamkan mataku.
Buuuuuuuuusssssshhhh
Tubuhku terhuyung kedepan, ah aku melayang … Aku benar-benar merasakan damai yang luar biasa, melayang terbang kebawah dari atas gedung tinggi lantai 4 itu. Selamat Tinggal, Tristan …
BRAAAAAAAAAAAAAKK…
Aku hanya tersenyum dihadapan kerumunan orang-orang yang shock ini , seraya menatap tubuhku yang hancur menghantam kotak-kotak jalanan trotoar ini. Aku bisa melihat kucuran darah segar dari atas bagian kepalaku yang hancur mencium trotoar. Bau anyir anyep darah tercium tajam di seantero tempat ini, darah itu terus saja menggenang dari hidung dan kepalaku yang sudah tak berbentuk lagi itu. Ternyata aku jelek ya , dengan tubuh hancur seperti itu ?
Aku menatap wajah seseorang dibalik kemeja cream dengan wajah tampan yang sedang berdiri mematung berhamburan bulir kristal bening dari kelopak mata-nya.
“HARIIISSSSSSSSSSS !”
Teriak Tristan memberontak di dalam dekapan seorang gadis manis berambut ikal dan lengan-lengan beberapa orang yang berusaha menahannya untuk menyentuh mayat-ku.
Aku hanya tersenyum kecil sambil menukik-kan pandangan tajam kearahnya saat ini.
“Tenang saja, sayang ! sebentar lagi , aku akan membuat agar kamu menyusul aku !”
Aku terkikik disudut garis polisi kuning sambil melemparkan pandangan menukik kearah-nya, kearah Tristan. Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja..
Selasa, 21 Februari 2012
Ke-6 Kali Febuary , Gue Nyerah di Senja Terakhir ! -PART 1-
Wuuuusssssshhh…
Hembusan angin diatas balkon gedung ini sedikit membuatku menyeringai menyapu pandangan kearah atas. Menelisik garis-garis orange yang tergores begitu saja di bentangan langit saat ini, benar-benar membuatku semakin terhenyak ! senja sore ini benar-benar indah dipadu dengan gerak burung-burung itu yang mulai terbang kearah barat bersamaan dengan berangsur-angsur sang matahari mulai beringsut menghilang .
Gelayutan awan dan desah riuh rendah angin saat ini, entahlah aku benar-benar kembali mengingatnya.
Brengsek !
kenapa aku justru kembali mengingatnya ? Huuufftt.. Hembusan nafas berat itu , keluar begitu saja dari ulu hatiku saat ini. Suasana hening saat ini kembali merayap-rayap ! Ah, aku benar-benar sudah tidak tahan lagi …. Bulir-bulir kristal bening itu kembali menyeruak dari sudut kelopak mataku. Sengaja aku membiarkannya, dan mungkin untuk terakhir kali aku melakukan ini untuknya. Karena sebentar lagi aku..........
• Mencintai dalam diam ?
• Mengikhlaskan ?
• “Aku jatuh cinta bukan dengan orang yang tepat ?”
Ah, brengsek dengan itu semua !
Kenapa semua orang dengan begitu mudahnya mengatakan itu semua ! bahkan tidak ada satu-pun yang mengizinkanku untuk bersamanya ! Apa yang salah dengan aku dan dia ? toh, samasama manusia ! Setiap orang mengatakan Perbedaan itu Indah, tapi aku tidak ! Persamaan itulah yang justru membuatku nyaman bersamanya …
Tahu apa mereka tentang aku ! Tristan Alfradian Osborn… DIALAH ORANG-nya !
Satu-satunya yang lebih mampu mengalihkan pandanganku dari setumpuk gulungan kertas dengan pipa-pipa kecil , statistika , pensil dan kertas gambar, mistar ukur, garis-garis, perhitungan-perhitungan tentang Fisika beserta rumus-rumus rumitnya dan segala macam yang mengasyik-kan itu.
Aku sangat mencintai hal-hal detil tentang Perencanaan dan segala tentang Ke-Arsitektur-an. Sampai ketika dia datang dan selalu berusaha duduk disamping meja kerja ku sambil menumpukan dagunya di genggaman tangannya, sambil terkadang menatapku aneh :
“Ris , kamu ngga pusing sama yang kaya gini-gini ?”
Keningnya berkerut sambil sesekali menunjuk-nunjuk gambar sketsa garis-garis yang ada di kertas gambarku yang cukup lebar itu.
“ya engga lah, Tristan !” aku menyeringai tersenyum sambil terkadang sesekali memandang kearah wajahnya yang tampan itu.
“hhee, iyaa ! segala tentang Arsitektur itu bisa membuat kamu sampai tergila-gila !”
********
Rasa sesak itu benar-benar terkadang merayapi pelan-pelan ulu hatiku saat ini. Guratan senyum manis di ujung garis bibirnya, sinar matanya yang bening yang terkadang dengan ekspresinya yang menyeringai sambil mengusap pelan rambut ku itu benar-benar aku rindukan. Aku merindukan perlakuan-nya yang seperti dulu.. Perlakuan itu bukan untuk-ku lagi ! atau mungkin memang dari dulu itu bukan untukku ?
Aku kembali menyusuri garis-garis orange yang mulai terlihat menghitam di langit. Wajahnya kembali terasa dan tergambar jelas berputar-putar diatas kepalaku saat ini.
|Tristan …. | Setiap menjelang senja , aku selalu berada disini… mendongak kearah guratan orange di langit. Duduk menengadah di ujung pembatas pagar balkon gedung tinggi ini. Apakah kamu tahu ? aku selalu kesini, aku hanya berharap sedikit kalau saja aku mendapati kamu duduk merebahkan tubuh di atas pagar balkon sambil tersenyum, itulah yang selalu kamu lakukan dulu, bukan ? Walalupun itu tidak pernah terjadi.
Do you know, dear ?
Aku selalu bergetar setiap kali menatap Toshiba Hitam-ku yang sedang tersambung dengan koneksi internet dan membuka layar Bookmark Facebook dan mendapati nama kamu ada di daftar ‘teman yang sedang online !”. Aku terus saja sibuk mencari-cari sapaan yang bagus , dan yang terkesan tidak terlalu ‘alay’. Aku terus saja mengetik di line chat sebelum meng-enternya , itu terjadi bahkan hampir sepuluh kali aku mengetik dan menghapus sebelum aku meng-enternya ! Walaupun pada akhirnya hanya kata ‘Tristaaaaan.. Ol juga ?’ yang aku ketik. Apa kamu tahu ? aku memikirkan kata-kata seperti itu seperti memikirkan jawaban dari para Professor sewaktu Sidang Skripsi-ku waktu itu. Walaupun akhirnya kamu hanya menjawab ‘iya…’ tapi itu sudah cukup membuat Springbed kamar tidurku bergetar hebat akibat hantaman kaki-kaki ku yang berlompatan disana.
Do you know, dear ?
Setiap kali kamu duduk sendirian di depan kelas ketika kuliah dulu dengan wajah berkerut seperti sedang memikirkan banyak masalah dan bahkan terkadang berkaca-kaca menahan bulir-bulir Kristal itu menyeruak, aku selalu ada dibalik dinding tempat tiang yang kamu jadikan bersandar dan aku ikut menangis karena itu.
Do you know , dear ?
Terkadang ada sesuatu yang berputar-putar di perutku dan menghalangi tenggorokan saat kamu selalu mengatakan : “Aku mencintai gadis itu, Ris ! kamu tolong cari tahu banyak tentang dia, Ris ! kamu kan sepupunya ?” Kegetiran itu selalu dan semakin membuncah, setiap kali kamu berkata seperti itu. Rasanya ingin saat itu juga aku membunuh kamu, Tristan … Dan akhirnya aku melakukannya juga demi kamu, sibuk mengirim sms kepada gadis itu –Creshia- hanya untuk sekedar mengobrol dan menanyakan hal tidak penting demi mencari banyak informasi tentang gadis itu hanya untuk KAMU.
Do you know, dear ?
Ketika kamu ulang tahun , dan semua orang memberikan ucapan disertai surprice dan kado , dan aku ? 2 minggu sebelum ulang tahun kamu, aku terus saja sibuk mengarang , menulis, menghapus, menulis lagi hanya untuk mencari kata-kata dan doa yang paling bagus di hari ulang tahun kamu. Sehari sebelumnya, aku hanya sibuk memaksakan diri untuk tidur siang agar ketika malam-nya aku mampu bergadang menunggu hingga jam 12 malam agar bisa menjadi orang pertama yang mengirimkan ucapan selamat ulang tahun buat kamu. Walaupun pada akhirnya, sms itu tidak pernah aku kirimkan tepat jam 12 malam karena aku ketiduran diatas meja kecil kamarku disebelah segelas kopi.
Do you know, dear ?
Seberapa sakitnya aku saat kamu berkata dengan nada tinggi sambil mendorong tubuhku hingga ke dinding kelas ruangan kuliah yang sunyi waktu itu. “Ris ! tapi aku ngga mungkin !” Tristan menggeleng kesal menatapku. “kenapa engga, Tan ? gue beneran sayang sama elo ! semenjak SMA sampai akhirnya lulus kuliah saat ini ! 6 tahun aku nunggu kamu, itu BELUM CUKUP ?” aku membalas bentakannya dengan teriakan yang lebih keras
Hembusan angin diatas balkon gedung ini sedikit membuatku menyeringai menyapu pandangan kearah atas. Menelisik garis-garis orange yang tergores begitu saja di bentangan langit saat ini, benar-benar membuatku semakin terhenyak ! senja sore ini benar-benar indah dipadu dengan gerak burung-burung itu yang mulai terbang kearah barat bersamaan dengan berangsur-angsur sang matahari mulai beringsut menghilang .
Gelayutan awan dan desah riuh rendah angin saat ini, entahlah aku benar-benar kembali mengingatnya.
Brengsek !
kenapa aku justru kembali mengingatnya ? Huuufftt.. Hembusan nafas berat itu , keluar begitu saja dari ulu hatiku saat ini. Suasana hening saat ini kembali merayap-rayap ! Ah, aku benar-benar sudah tidak tahan lagi …. Bulir-bulir kristal bening itu kembali menyeruak dari sudut kelopak mataku. Sengaja aku membiarkannya, dan mungkin untuk terakhir kali aku melakukan ini untuknya. Karena sebentar lagi aku..........
• Mencintai dalam diam ?
• Mengikhlaskan ?
• “Aku jatuh cinta bukan dengan orang yang tepat ?”
Ah, brengsek dengan itu semua !
Kenapa semua orang dengan begitu mudahnya mengatakan itu semua ! bahkan tidak ada satu-pun yang mengizinkanku untuk bersamanya ! Apa yang salah dengan aku dan dia ? toh, samasama manusia ! Setiap orang mengatakan Perbedaan itu Indah, tapi aku tidak ! Persamaan itulah yang justru membuatku nyaman bersamanya …
Tahu apa mereka tentang aku ! Tristan Alfradian Osborn… DIALAH ORANG-nya !
Satu-satunya yang lebih mampu mengalihkan pandanganku dari setumpuk gulungan kertas dengan pipa-pipa kecil , statistika , pensil dan kertas gambar, mistar ukur, garis-garis, perhitungan-perhitungan tentang Fisika beserta rumus-rumus rumitnya dan segala macam yang mengasyik-kan itu.
Aku sangat mencintai hal-hal detil tentang Perencanaan dan segala tentang Ke-Arsitektur-an. Sampai ketika dia datang dan selalu berusaha duduk disamping meja kerja ku sambil menumpukan dagunya di genggaman tangannya, sambil terkadang menatapku aneh :
“Ris , kamu ngga pusing sama yang kaya gini-gini ?”
Keningnya berkerut sambil sesekali menunjuk-nunjuk gambar sketsa garis-garis yang ada di kertas gambarku yang cukup lebar itu.
“ya engga lah, Tristan !” aku menyeringai tersenyum sambil terkadang sesekali memandang kearah wajahnya yang tampan itu.
“hhee, iyaa ! segala tentang Arsitektur itu bisa membuat kamu sampai tergila-gila !”
********
Rasa sesak itu benar-benar terkadang merayapi pelan-pelan ulu hatiku saat ini. Guratan senyum manis di ujung garis bibirnya, sinar matanya yang bening yang terkadang dengan ekspresinya yang menyeringai sambil mengusap pelan rambut ku itu benar-benar aku rindukan. Aku merindukan perlakuan-nya yang seperti dulu.. Perlakuan itu bukan untuk-ku lagi ! atau mungkin memang dari dulu itu bukan untukku ?
Aku kembali menyusuri garis-garis orange yang mulai terlihat menghitam di langit. Wajahnya kembali terasa dan tergambar jelas berputar-putar diatas kepalaku saat ini.
|Tristan …. | Setiap menjelang senja , aku selalu berada disini… mendongak kearah guratan orange di langit. Duduk menengadah di ujung pembatas pagar balkon gedung tinggi ini. Apakah kamu tahu ? aku selalu kesini, aku hanya berharap sedikit kalau saja aku mendapati kamu duduk merebahkan tubuh di atas pagar balkon sambil tersenyum, itulah yang selalu kamu lakukan dulu, bukan ? Walalupun itu tidak pernah terjadi.
Do you know, dear ?
Aku selalu bergetar setiap kali menatap Toshiba Hitam-ku yang sedang tersambung dengan koneksi internet dan membuka layar Bookmark Facebook dan mendapati nama kamu ada di daftar ‘teman yang sedang online !”. Aku terus saja sibuk mencari-cari sapaan yang bagus , dan yang terkesan tidak terlalu ‘alay’. Aku terus saja mengetik di line chat sebelum meng-enternya , itu terjadi bahkan hampir sepuluh kali aku mengetik dan menghapus sebelum aku meng-enternya ! Walaupun pada akhirnya hanya kata ‘Tristaaaaan.. Ol juga ?’ yang aku ketik. Apa kamu tahu ? aku memikirkan kata-kata seperti itu seperti memikirkan jawaban dari para Professor sewaktu Sidang Skripsi-ku waktu itu. Walaupun akhirnya kamu hanya menjawab ‘iya…’ tapi itu sudah cukup membuat Springbed kamar tidurku bergetar hebat akibat hantaman kaki-kaki ku yang berlompatan disana.
Do you know, dear ?
Setiap kali kamu duduk sendirian di depan kelas ketika kuliah dulu dengan wajah berkerut seperti sedang memikirkan banyak masalah dan bahkan terkadang berkaca-kaca menahan bulir-bulir Kristal itu menyeruak, aku selalu ada dibalik dinding tempat tiang yang kamu jadikan bersandar dan aku ikut menangis karena itu.
Do you know , dear ?
Terkadang ada sesuatu yang berputar-putar di perutku dan menghalangi tenggorokan saat kamu selalu mengatakan : “Aku mencintai gadis itu, Ris ! kamu tolong cari tahu banyak tentang dia, Ris ! kamu kan sepupunya ?” Kegetiran itu selalu dan semakin membuncah, setiap kali kamu berkata seperti itu. Rasanya ingin saat itu juga aku membunuh kamu, Tristan … Dan akhirnya aku melakukannya juga demi kamu, sibuk mengirim sms kepada gadis itu –Creshia- hanya untuk sekedar mengobrol dan menanyakan hal tidak penting demi mencari banyak informasi tentang gadis itu hanya untuk KAMU.
Do you know, dear ?
Ketika kamu ulang tahun , dan semua orang memberikan ucapan disertai surprice dan kado , dan aku ? 2 minggu sebelum ulang tahun kamu, aku terus saja sibuk mengarang , menulis, menghapus, menulis lagi hanya untuk mencari kata-kata dan doa yang paling bagus di hari ulang tahun kamu. Sehari sebelumnya, aku hanya sibuk memaksakan diri untuk tidur siang agar ketika malam-nya aku mampu bergadang menunggu hingga jam 12 malam agar bisa menjadi orang pertama yang mengirimkan ucapan selamat ulang tahun buat kamu. Walaupun pada akhirnya, sms itu tidak pernah aku kirimkan tepat jam 12 malam karena aku ketiduran diatas meja kecil kamarku disebelah segelas kopi.
Do you know, dear ?
Seberapa sakitnya aku saat kamu berkata dengan nada tinggi sambil mendorong tubuhku hingga ke dinding kelas ruangan kuliah yang sunyi waktu itu. “Ris ! tapi aku ngga mungkin !” Tristan menggeleng kesal menatapku. “kenapa engga, Tan ? gue beneran sayang sama elo ! semenjak SMA sampai akhirnya lulus kuliah saat ini ! 6 tahun aku nunggu kamu, itu BELUM CUKUP ?” aku membalas bentakannya dengan teriakan yang lebih keras
Senin, 20 Februari 2012
Di Boston, Aku Menemukannya ..
Boston,
Kota kecil di United States yang bahkan kamu bisa mengelilingi kota ini seharian hanya dengan bersepeda. Di Boston aku menemukannya… Sosok terindah yang pernah tertangkap ujung kelopak mata, yang mampu menghentikan sejenak ujung-ujung wedgesku hanya untuk melihatnya tersenyum dihadapanku. Melihat langkah-langkahnya yang pasti setiap keluar masuk laboraturium. Sosok terindah yang pernah hadir dengan senyuman sederhananya sambil bersandar di pilar-pilar putih milik University of Massachusetts Boston dengan Jas putih Laboraturium milik anak-anak Jurusan Rekayasa dan Teknologi itu. Dan hingga 5 tahun setelah itu, bahkan aku benar-benar tidak mampu melupakannya…
@Rekayasa and Technology Faculty University of Massachusetts Boston : 09.20 AM
Dia menyapaku …
Aku mulai menghitung detik-detik jam yang berada diarah belakang punggungnya, aku mulai merasakan jam dinding itu mulai bermain-main dengan perasaanku saat ini. Aku merasakan detak jam di koridor ini seperti beradu cepatnya dengan lompatan-lompatan jantungku yang berada dihadapannya saat ini.
Hey ! Perasaan apa ini !”
Wuuuusshhhh…
Semilir angin di Massachusetts saat ini benar-benar berada di bawah 3 derajat celcius. Aku gemetar ! aku terus saja menggenggam scraf-ku dari tadi. Tidak ! bukan karena embun salju yang dinginnya merasuk pelan ke celah-celah bolero biru muda yang sedang aku kenakan saat ini tapi karena guratan senyum indahnya saat itu benar-benar membuatku gemetar.
“it was raining …” desisnya perlahan di tengah-tengah hembusan kasar angin-angin badai salju saat ini. “thankyou …” aku tersenyum sambil sesekali mendongak kearah lindungan payung bewarna bening yang sedang ia pegang dan mengarahkannya tepat diatas kepalaku.
Aku sibuk mendekap kedua tanganku dan menduduk sambil sesekali melihat ke arah genangan salju yang mencair di jalanan aspal saat ini, berharap aku mendapati bayangan wajahnya terpantul disana.
Dia satu-satunya orang yang membuatku tidak mampu menatap dalam matanya.
Kota kecil di United States yang bahkan kamu bisa mengelilingi kota ini seharian hanya dengan bersepeda. Di Boston aku menemukannya… Sosok terindah yang pernah tertangkap ujung kelopak mata, yang mampu menghentikan sejenak ujung-ujung wedgesku hanya untuk melihatnya tersenyum dihadapanku. Melihat langkah-langkahnya yang pasti setiap keluar masuk laboraturium. Sosok terindah yang pernah hadir dengan senyuman sederhananya sambil bersandar di pilar-pilar putih milik University of Massachusetts Boston dengan Jas putih Laboraturium milik anak-anak Jurusan Rekayasa dan Teknologi itu. Dan hingga 5 tahun setelah itu, bahkan aku benar-benar tidak mampu melupakannya…
@Rekayasa and Technology Faculty University of Massachusetts Boston : 09.20 AM
Dia menyapaku …
Aku mulai menghitung detik-detik jam yang berada diarah belakang punggungnya, aku mulai merasakan jam dinding itu mulai bermain-main dengan perasaanku saat ini. Aku merasakan detak jam di koridor ini seperti beradu cepatnya dengan lompatan-lompatan jantungku yang berada dihadapannya saat ini.
Hey ! Perasaan apa ini !”
Wuuuusshhhh…
Semilir angin di Massachusetts saat ini benar-benar berada di bawah 3 derajat celcius. Aku gemetar ! aku terus saja menggenggam scraf-ku dari tadi. Tidak ! bukan karena embun salju yang dinginnya merasuk pelan ke celah-celah bolero biru muda yang sedang aku kenakan saat ini tapi karena guratan senyum indahnya saat itu benar-benar membuatku gemetar.
“it was raining …” desisnya perlahan di tengah-tengah hembusan kasar angin-angin badai salju saat ini. “thankyou …” aku tersenyum sambil sesekali mendongak kearah lindungan payung bewarna bening yang sedang ia pegang dan mengarahkannya tepat diatas kepalaku.
Aku sibuk mendekap kedua tanganku dan menduduk sambil sesekali melihat ke arah genangan salju yang mencair di jalanan aspal saat ini, berharap aku mendapati bayangan wajahnya terpantul disana.
Dia satu-satunya orang yang membuatku tidak mampu menatap dalam matanya.
Langganan:
Komentar (Atom)