Selasa, 21 Februari 2012

Ke-6 Kali Febuary , Gue Nyerah di Senja Terakhir ! -PART 1-

Wuuuusssssshhh…

Hembusan angin diatas balkon gedung ini sedikit membuatku menyeringai menyapu pandangan kearah atas. Menelisik garis-garis orange yang tergores begitu saja di bentangan langit saat ini, benar-benar membuatku semakin terhenyak ! senja sore ini benar-benar indah dipadu dengan gerak burung-burung itu yang mulai terbang kearah barat bersamaan dengan berangsur-angsur sang matahari mulai beringsut menghilang .
Gelayutan awan dan desah riuh rendah angin saat ini, entahlah aku benar-benar kembali mengingatnya.

Brengsek !

kenapa aku justru kembali mengingatnya ? Huuufftt.. Hembusan nafas berat itu , keluar begitu saja dari ulu hatiku saat ini. Suasana hening saat ini kembali merayap-rayap ! Ah, aku benar-benar sudah tidak tahan lagi …. Bulir-bulir kristal bening itu kembali menyeruak dari sudut kelopak mataku. Sengaja aku membiarkannya, dan mungkin untuk terakhir kali aku melakukan ini untuknya. Karena sebentar lagi aku..........

• Mencintai dalam diam ?
• Mengikhlaskan ?
• “Aku jatuh cinta bukan dengan orang yang tepat ?”

Ah, brengsek dengan itu semua !

Kenapa semua orang dengan begitu mudahnya mengatakan itu semua ! bahkan tidak ada satu-pun yang mengizinkanku untuk bersamanya ! Apa yang salah dengan aku dan dia ? toh, samasama manusia ! Setiap orang mengatakan Perbedaan itu Indah, tapi aku tidak ! Persamaan itulah yang justru membuatku nyaman bersamanya …

Tahu apa mereka tentang aku ! Tristan Alfradian Osborn… DIALAH ORANG-nya !
Satu-satunya yang lebih mampu mengalihkan pandanganku dari setumpuk gulungan kertas dengan pipa-pipa kecil , statistika , pensil dan kertas gambar, mistar ukur, garis-garis, perhitungan-perhitungan tentang Fisika beserta rumus-rumus rumitnya dan segala macam yang mengasyik-kan itu.

Aku sangat mencintai hal-hal detil tentang Perencanaan dan segala tentang Ke-Arsitektur-an. Sampai ketika dia datang dan selalu berusaha duduk disamping meja kerja ku sambil menumpukan dagunya di genggaman tangannya, sambil terkadang menatapku aneh :
           “Ris , kamu ngga pusing sama yang kaya gini-gini ?”
Keningnya berkerut sambil sesekali menunjuk-nunjuk gambar sketsa garis-garis yang ada di kertas gambarku yang cukup lebar itu.
           “ya engga lah, Tristan !” aku menyeringai tersenyum sambil terkadang sesekali memandang kearah wajahnya yang tampan itu.
           “hhee, iyaa ! segala tentang Arsitektur itu bisa membuat kamu sampai tergila-gila !”

********

Rasa sesak itu benar-benar terkadang merayapi pelan-pelan ulu hatiku saat ini. Guratan senyum manis di ujung garis bibirnya, sinar matanya yang bening yang terkadang dengan ekspresinya yang menyeringai sambil mengusap pelan rambut ku itu benar-benar aku rindukan. Aku merindukan perlakuan-nya yang seperti dulu.. Perlakuan itu bukan untuk-ku lagi ! atau mungkin memang dari dulu itu bukan untukku ?

Aku kembali menyusuri garis-garis orange yang mulai terlihat menghitam di langit. Wajahnya kembali terasa dan tergambar jelas berputar-putar diatas kepalaku saat ini.

|Tristan …. | Setiap menjelang senja , aku selalu berada disini… mendongak kearah guratan orange di langit. Duduk menengadah di ujung pembatas pagar balkon gedung tinggi ini. Apakah kamu tahu ? aku selalu kesini, aku hanya berharap sedikit kalau saja aku mendapati kamu duduk merebahkan tubuh di atas pagar balkon sambil tersenyum, itulah yang selalu kamu lakukan dulu, bukan ? Walalupun itu tidak pernah terjadi.

Do you know, dear ?
Aku selalu bergetar setiap kali menatap Toshiba Hitam-ku yang sedang tersambung dengan koneksi internet dan membuka layar Bookmark Facebook dan mendapati nama kamu ada di daftar ‘teman yang sedang online !”. Aku terus saja sibuk mencari-cari sapaan yang bagus , dan yang terkesan tidak terlalu ‘alay’. Aku terus saja mengetik di line chat sebelum meng-enternya , itu terjadi bahkan hampir sepuluh kali aku mengetik dan menghapus sebelum aku meng-enternya ! Walaupun pada akhirnya hanya kata ‘Tristaaaaan.. Ol juga ?’ yang aku ketik. Apa kamu tahu ? aku memikirkan kata-kata seperti itu seperti memikirkan jawaban dari para Professor sewaktu Sidang Skripsi-ku waktu itu. Walaupun akhirnya kamu hanya menjawab ‘iya…’ tapi itu sudah cukup membuat Springbed kamar tidurku bergetar hebat akibat hantaman kaki-kaki ku yang berlompatan disana.

Do you know, dear ?
Setiap kali kamu duduk sendirian di depan kelas ketika kuliah dulu dengan wajah berkerut seperti sedang memikirkan banyak masalah dan bahkan terkadang berkaca-kaca menahan bulir-bulir Kristal itu menyeruak, aku selalu ada dibalik dinding tempat tiang yang kamu jadikan bersandar dan aku ikut menangis karena itu.

Do you know , dear ?
Terkadang ada sesuatu yang berputar-putar di perutku dan menghalangi tenggorokan saat kamu selalu mengatakan : “Aku mencintai gadis itu, Ris ! kamu tolong cari tahu banyak tentang dia, Ris ! kamu kan sepupunya ?” Kegetiran itu selalu dan semakin membuncah, setiap kali kamu berkata seperti itu. Rasanya ingin saat itu juga aku membunuh kamu, Tristan … Dan akhirnya aku melakukannya juga demi kamu, sibuk mengirim sms kepada gadis itu –Creshia- hanya untuk sekedar mengobrol dan menanyakan hal tidak penting demi mencari banyak informasi tentang gadis itu hanya untuk KAMU.

Do you know, dear ?
Ketika kamu ulang tahun , dan semua orang memberikan ucapan disertai surprice dan kado , dan aku ? 2 minggu sebelum ulang tahun kamu, aku terus saja sibuk mengarang , menulis, menghapus, menulis lagi hanya untuk mencari kata-kata dan doa yang paling bagus di hari ulang tahun kamu. Sehari sebelumnya, aku hanya sibuk memaksakan diri untuk tidur siang agar ketika malam-nya aku mampu bergadang menunggu hingga jam 12 malam agar bisa menjadi orang pertama yang mengirimkan ucapan selamat ulang tahun buat kamu. Walaupun pada akhirnya, sms itu tidak pernah aku kirimkan tepat jam 12 malam karena aku ketiduran diatas meja kecil kamarku disebelah segelas kopi.

Do you know, dear ?
Seberapa sakitnya aku saat kamu berkata dengan nada tinggi sambil mendorong tubuhku hingga ke dinding kelas ruangan kuliah yang sunyi waktu itu. “Ris ! tapi aku ngga mungkin !” Tristan menggeleng kesal menatapku. “kenapa engga, Tan ? gue beneran sayang sama elo ! semenjak SMA sampai akhirnya lulus kuliah saat ini ! 6 tahun aku nunggu kamu, itu BELUM CUKUP ?” aku membalas bentakannya dengan teriakan yang lebih keras

Tidak ada komentar:

Posting Komentar