Aku bisa merasakan tatapan menukik tajam dari seorang Tristan terhadapku, rahangnya gemeretak ! kepalan tangan didalam sakunya, terus saja ia kencangkan genggamannya. Tristan berjalan kearahku dengan langkah dipercepat dengan nafasnya yang berat. Aku hanya menunduk , benar-benar tidak sanggup dengan emosi yang menguasai Tristan saat ini.
BRAAAAAKK..
Tristan mendorong tubuhku hingga terhempas kuat menghantam papan tulis ruang perkuliahan. Aku bisa merasakan genggaman tangan kirinya melingkar di leherku dengan sangat kuat.
“RIS ! LOE SADAR NGGA SIH !”
Teriak Tristan yang kali ini lebih keras dari sebelumnya,
menatap mataku dengan kedua matanya yang merah.
Tristan terlihat sulit mengatur nafasnya yang tersengal karena emosi ini. Aku sedikit terkejut dengan reaksinya yang meninggalkan logat ‘aku-kamu’ nya.
“SADAR APAAA ? APAA YANG HARUS GUE SADARIN ? Gue HARUS sadar kalo loe lebih milih cewek itu dari pada gue, IYAAAA ? LOE LEBIH MILIH CRASHIA ?”
Aku membalas teriakan itu sambil mencengkram kuat lengannya yang masih melingkarkan pergelangan tangannya di leherku.
Aku sedikit mulai kesulitan bernafas karena-nya. Aku bisa merasakan tatapan Tristan yang semakin lama yang semakin terasa berkaca-kaca menelisikkan tatapannya kearahku.
“sorry , aku sama sekali ngga bermaksud buat …”
Tristan melemahkan nada suaranya, dan mulai melepaskan ‘cekikan’ tangannya di leherku sambil terlihat limbung dan benar-benar memandangku dengan rasa kecewa, entah kenapa ! Tristan terlihat masih mencengkram kuat sisi-sisi jeans hitam-nya. Tubuhku terasa benar-benar lemas. Segitu tidak ada kesempatannya kah aku, sampai-sampai Tristan harus mendorong tubuhku dan mencoba mencekik ku seperti tadi ?
“kamu itu sahabat aku, Ris ! dan apalagi kamu itu …” desahnya lirih namun aku mendengarnya.
“terus kenapa, Tan ? terus kenapa kalo aku sahabat kamu ?”
Tristan beringsut dari duduknya , dengan langkah berat ia menghampiriku lagi kali ini Tristan terlihat emosi bergumul dari dalam dirinya.
“HARIS ! GUE ITU COWOK ! DAN ELO ITU …”
Tristan menunjukkan telunjuknya kearahku dengan kasar sambil sekali lagi mengguncang-guncang bahu dan mendorong dadaku yang bidang ini berjalan mundur dan menabrak dinding.
Brengsek !
memang apa salahnya aku mencintai laki-laki juga ? kenapa semua orang selalu setuju dengan perbedaan ? bukankah persamaan itu lebih menyenangkan ! Brengsek kamu, Tristan…
“COWOK ! IYA ? ITU KAN YANG MAU ELO OMONGIN ? BASI !”
BRRAAAAAAAKK….
Aku memberontak hebat dari cengkraman lengan-lengannya itu sambil berbalik arah menghadap kaca yang tergantung di bagian sebelah kiri dinding, dan langsung menghantamnya dengan buku-buku jariku.
PAAAAAAAAAARR..
Pecahan serbuk-serbuk kaca itu terpental hingga ke kotak-kotak keramik lantai. Tristan hanya bergeming mengamati apa yang barusan dilihatnya itu barusan. Aku hanya memejamkan mataku, sembari sedikit meringis sakit dengan kucuran daras segar yang mengaliri buku-buku kepalan tangan-ku. Perih …. Bukan karena tanganku terluka tapi karena….
Aku mulai beringsut dan mengumpulkan tenagaku mencoba dan mencoba mendorongnya lebih keras.
“HARIS ! Plis, DENGERIN GUE ! LOE BISA SEMBUH , RIS ! GUE YAKIN ITU ! GUE BAKAL BANTU ELO !”
“GUE NGGA SAKIT!” Aku menamparnya dengan sekuat tenaga yang aku bisa ! sisa-sisa energi itu masih tersisa.
_____________
Kegetiran itu selalu saja aku rasakan tiap kali mengingat semua kejadian tentangku, tentang Tristan, tentang semuanya. Aku mencoba menutup mataku seraya merasakan sensasi angin menerpa wajahku. Regresi mundur tentang memori tentang Tristan mulai menguasai hampir seluruh otakku saat ini. Aku hanya menatap lurus , menghadirkan pandangan kosong kearah bawah balkon gedung tinggi ini.
Tesss….
Akhirnya jatuh juga !
Bulir-bulir kristal kening itu mulai menguasai kelopak mataku dan aku sama sekali tidak mampu menahannya. Air mata itu semakin menyeruak deras , aku hanya diam menangis tanpa suara didalam keheningan tempat ini. Hal yang selalu dan biasa aku lakukan dulu setiap kali melihat Tristan bersama Crashia, yaitu berjalan mundur perlahan dan menangis tanpa suara.
Tuhan…
Sampai kapan aku harus seperti ini, selalu memperhatikan setiap detil tentangnya , setiap detil sampai ke hal-hal kecil tentang apa saja yang ia lakukan, setiap detil perasaannya setiap hari ? Sampai kapan ? Beratus-ratus kali bahkan aku berusaha untuk mencoba membenci-nya ! Tapi… itu sia-sia ! Semakin keras aku berusaha untuk melupakannya, semakin keras juga rasa sayang itu berjuta-juta kali lipat membuncah ! Ah, aku benar-benar muak dengan topeng ini, aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi ..
“Apa benar yang mereka katakan itu ? apa aku salah mencintai seorang laki-laki juga ? aku laki-laki dan Tristan laki-laki , apa itu salah ? Salah dimana-nya….
”Aku mulai merasakan kebencian akan diriku sendiri ini semakin menggunung dan menguasai rongga dadaku.
Wuuussssshh…
Aku kembali menghela nafas disela-sela guratan garis di langit yang sudah terlihat mulai menghitam sempurna, perlahan-lahan senja barusan tadi menenggelamkan coretan-coretan orange senja dilangit sore tadi. Ah, akhirnya aku bisa merasakan senja terakhir ini.
“Tristan …….” Desahku lirih sambil mendongakkan daguku kearah temaramnya langit malam ini.
Aku beringsut beranjak dari posisi duduk menujulurkan kaki dari atas balkon gedung 4 lantai ini, mencoba berdiri diujung pembatas pagar balkon gedung merasakan semilir angin malam yang mendesah pelan membawa semua ingatan tentang-nya.
Buuuuussssshhhh….
Kali ini, angin barusan menghempaskan dan merasuk hingga kedalam kemeja-ku menerbangkan sebagian rambut-ku yang terlihat acak-acakan ini. Aku memejamkan mataku sambil berdiri dip agar tinggi balkon ini , merentangkan tangan merasakan lembutnya desiran angin mala mini, aku memejamkan mata ! sengaja, karena aku hanya ingin merasakan sensasi-nya !
Tesss…
Semua ingatan tentangnya bergumul dengan kecepatan diatas rata-rata merasuk merayapi seluruh bagian otakku saat ini. Bulir-bulir Kristal bening itu benar-benar menyeruak deras kali ini di kelopak mataku ! Sengaja aku membiarkannya…
“woy….woy ….. ! TURUN !”
Samar-samar aku mampu mendengar teriakan kerumunan dari arah bawah ! Aku mengabaikannya, toh ! buat apa orang-orang itu peduli terhadap-ku ! mereka semua tidak tahu apa-apa.
“TURUUUNNN ! WOYY ..”
Teriakan-teriakan itu semakin keras, justru membuatku semakin bersemangat ! Mereka terlihat sedang bersorak bahagia mendukungku ! Aku benar-benar semakin bersemangat… Aku menggeserkan telapak kaki bersepatu ini , berusaha melangkah dan menjejakI udara, aku memejamkan mataku.
Buuuuuuuuusssssshhhh
Tubuhku terhuyung kedepan, ah aku melayang … Aku benar-benar merasakan damai yang luar biasa, melayang terbang kebawah dari atas gedung tinggi lantai 4 itu. Selamat Tinggal, Tristan …
BRAAAAAAAAAAAAAKK…
Aku hanya tersenyum dihadapan kerumunan orang-orang yang shock ini , seraya menatap tubuhku yang hancur menghantam kotak-kotak jalanan trotoar ini. Aku bisa melihat kucuran darah segar dari atas bagian kepalaku yang hancur mencium trotoar. Bau anyir anyep darah tercium tajam di seantero tempat ini, darah itu terus saja menggenang dari hidung dan kepalaku yang sudah tak berbentuk lagi itu. Ternyata aku jelek ya , dengan tubuh hancur seperti itu ?
Aku menatap wajah seseorang dibalik kemeja cream dengan wajah tampan yang sedang berdiri mematung berhamburan bulir kristal bening dari kelopak mata-nya.
“HARIIISSSSSSSSSSS !”
Teriak Tristan memberontak di dalam dekapan seorang gadis manis berambut ikal dan lengan-lengan beberapa orang yang berusaha menahannya untuk menyentuh mayat-ku.
Aku hanya tersenyum kecil sambil menukik-kan pandangan tajam kearahnya saat ini.
“Tenang saja, sayang ! sebentar lagi , aku akan membuat agar kamu menyusul aku !”
Aku terkikik disudut garis polisi kuning sambil melemparkan pandangan menukik kearah-nya, kearah Tristan. Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar